Naskah Barabah
BARABAH
Karya Motinggo
Busye
DRAMATIC PERSONAE
BARABAH
Istri Banio; seorang wanita
berumur 28 tahun, cantik, menarik dan mencintai suaminya.
BANIO
Suami Barabah; lelaki
tua betubuh bongkok tapi kekar. Berumur sekitar 70an, suaranya lantang dan
sukar untuk tertawa
ADIBUL
Lelaki besar tinggi,
berusia 30 tahun, bekerja sebagai kusir sado.
ZAITUN
Wanita montok, berusia 25
tahun, sikapnya ramah dan hangat. Ia adalah anak Banio dari istri ke enam yang
telah lama diceraikannya.
ADEGAN I
CERITA INI TERJADI DI RUANG TENGAH RUMAH BANIO. NAMPAK
SEBUAH MEJA KUNO DAN SEBUAH KURSI TUA YANG TERLETAK DI SAMPINGNYA, DI SUDUT
RUANG MELINTANG SEBUAH PETI PANJANG DIMANA BIASANYA BARABAH DUDUK MENENUN, DI
SISI TERDAPAT KURSI KURUS. BANIO MASUK DENGAN TANGAN LUKA PENUH TANAH.
BANIO : BARABAH! (MELIHAT
SEKELILING) O…BARABAH! (DUDUK DI KURSI DENGAN MENGURUT TANGANNYA SENDIRI YANG
LUKA)
BARABAH :
Tangan bapak luka!?
BANIO : Biar!
BARABAH : Ohh
BANIO : Iya. Tangan bapak luka
BANIO MINUM KOPI DAN BARABAH DUDUK DI PETI
Tapi kopinya enak
BARABAH : Benar? Tapi serbuk kopinya yang
kemarin juga
BANIO : TIDAK PEDULI ITU SERBUK KOPI
KEMARIN ATAU LIMA PULUH TAHUN LALU, AKU CUMA MENGATAKAN KOPI YANG KAU BIKIN
HARI INI ENAK. SUDAH, JANGAN TANYA LAGI!
BARABAH : Jangan Tanya lagi….
Banio memalingkan mukanya. Kemudian melirik ke arah
Barabah yang merenda, Banio menarik napas panjang.
BANIO : (LEMBUT)Barabah… .
BARABAH : Iya pak?
BANIO : Tolong pijit-pijit kepalaku
Barabah berdiri di depan Banio
BARABAH : Apa mau dikerok lagi punggung itu?
BANIO : Ah, malu aku!
BARABAH : Kenapa?
BANIO : Punggungku sudah bongkok.
Nanti engkau tahu punggungku bongkok
BARABAH : Ah, tidak.
BANIO : (BERDIRI) Siapa bilang tidak!? Lihat nih,
lihat!
(BANIO DUDUK. BARABAH MASIH BERDIRI. BANIO MEMIJIT-MIJIT
KENINGNYA SENDIRI DAN MELIHAT BARABAH MASIH BERDIRI DARI SELA-SELA JEMARINYA)
Kau masih berdiri di situ, Barabah?
BARABAH :
Ibah kan mau mijit kening bapak
BANIO : (LEMBUT) Barabah… .
BARABAH : Ya, pak?
BANIO : Aku sudah tua ya?
BARABAH : Belum pak
BANIO : Bohong! Aku m-m-m-merasa
sudah tua. Aku ini sudah tua, ya kan Barabah?
BARABAH : Belum pak.
BANIO : (TEGAK DENGAN KEKARNYA) Bohong!
Coba terus terang katakan kalau aku sudah tua
(diam sesaat setelah melihat Barabah)
Semua bini memanggil lakinya dengan sebutan yang layak
(diam sejenak)
Mereka tidak memanggil ‘bapak’ kepada lakinya atau ‘pak’.
Suatu kali aku datang ke rumah orang Palembang, bininya memanggil ‘kak’ pada
lakinya. Aku bertamu ke rumah orang jawa, bininya memanggil ‘kang mas’ pada
lakinya. Datang pula aku ke rumah orang Padang, Sutan Mangkudung. Bininya
memanggil ‘uda’ pada lakinya. Dan kalau ada orang datang ke rumah, kau
memanggil apa padaku?
BARABAH :
Ibah akan tetap memanggil bapak
BANIO : Kenapa?
BARABAH : Karena Ibah tidak bisa merubahnya
lagi
BANIO : Bukan karena aku sudah tua
Bangka?
BARABAH : Bukan!
BANIO : Bohong!
BARABAH : Betul!
BANIO : Bohong! Terang-terangan aku
sudah tua bongkok!
BARABAH : Ibah berani sumpah, pak
BANIO : SUMPAH APA? KAU BERANI,
NANTI MALAM DATaNG KE KUBURAN TIDAK PAKAI LAMPU? TENTU KAU TIDAK BERANI. AKU
SUDAH TUA YA BARABAH? (BARABAH DIAM SAJA) YA, AKU SUDAH TUA DAN SEBENTAR LAGI
AKU AKAN MATI. BARANGKALI LIMA ATAU ENAM TAHUN LAGI. KALAU AKU MATI, APA KAU
AKAN MENANGIS BARABAH?
(Barabah terdiam)
Ya, aku sudah tua dan sebentar lagi aku akan mati.
Barangkali lima atau enam tahun lagi. Kalau aku mati, apa kau akan menangis
Barabah?
BARABAH : Ibah akan menangis di kuburan
bapak selama seminggu
BANIO : Sesudah kau menangis selama
seminggu dan air matamu kering, kau akan menangis lagi? Barabah?
BARABAH : Ibah akan nangis lagi kalau punya
air mata lagi
BANIO : BOHONG! SESUDAH MATAMU
BENGKAK KARENA MENANGIS SEMINGGU ITU, SEMINGGU KEMUDIAN KAU AKAN DILAMAR ORANG.
(Barabah terdiam)
Ya, ya. Kau akan dilamar seorang lelaki. Laki-laki itu
kra-kira lelaki mata keranjang. Ah, bukan, bukan itu saja, dia lelaki
pengangguran yang suka ongkang kaki dan tidur jam delapan, lantas bangun dan
makan jam sepuluh siang. Besoknya ia tidur jam delapan, bangun dan makan jam
dua belas siang. Dan sebelum umur empat puluh, lelaki itu mati. Ia mati di
tempat tidur
(Barabah tertawa)
Kenapa kau tertawa?
BARABAH : Habisnya bapak lucu!
BANIO : (MEMEKIK) Apanya yang lucu?
Ini tidak lucu!
(BEBERAPA SAAT HENING. LALU SENYUM MAHAL DARI BIBIR BANIO
KELUAR JUGA)
Haha…. Memang lucu juga . karena aku dulu begitu. Ketika
aku melarat waktu masih bujang dulu, aku menunggu-nunggu seorang kakek yang
punya bini muda. Aku mengharapkan kakek itu lekas mati dan bininya akan jadi
janda muda. Tapi sialan! Kakek itu tidak mati-mati dan aku makin melarat.
(Barabah tertawa kencang)
Kenapa kau tertawa?
BARABAH : Lucu!
BANIO : MEMANG LUCU. (LALU TEKANAN
SUARANYA BERUBAH) BARABAH?
BARABAH : Ya, pak.
BANIO : AKU SUDAH KAKEK-KAKEK
KELIHATANNYA YA? AH, JANGAN DIJAWAB. TENTU KAU AKAN BILANG ‘TIDAK, PAK’ ATAU
‘BELUM PAK’. AKU TADI LEWAT DI DEPAN KANTOR JAPENKAB DAN MEMBACA KORAN.
JAPENKAB….JAWATAN PENERANGAN KABUPATEN! AH, ORANG-ORANG SEKARANG TERLALU SIBUK
DENGAN DUNIA INI, MAU KIAMAT SEHINGGA MEREKA MEMANGGIL WALIKOTA DENGAN SEBUTAN
WALKOT. SAYA TADI JUGA MEMBACA KORAN DAN KATANYA DUNIA AKAN KIAMAT. AKU BENCI
SAMA TUKANG-TUKANG RAMAL ITU. MEREKA PEMBOHONG SEMUA. TAPI AKU PERCAYA, SEKALI
WAKTU DUNIA INI AKAN KIAMAT SEPERTI AKU PERCAYA SUATU WAKTU AKU AKAN MATI.
TETAPI AKU TIDAK MAU LEKAS-LEKAS MATI SEBELUM AKU PUNYA ANAK LAKI-LAKI.
(Barabah tersenyum)
Kenapa kau tersenyum? Kau tertawa karena dari sebelas
orang perempuan yang kukawini aku tidak pernah dapat anak laki-laki? Aku dulu
ahli penabuh genderang. Dram-tam-tam, dram tam tam berjalan keliling kota dalam
barisan dengan terompet tro titet trot titet dram tam tam, dram tam tam. He,
apa kau masih simpan tambur itu?
BARABAH :Masih ada di gudang
BANIO : AKU DULU LELAKI MATA
KERANJANG. HE, KENAPA KAU TERTAWA? MEMANG DULU AKU DIBENCI GADIS-GADIS.
SEBETULNYA GADIS-GADIS ITU BUKAN BENCI, CUMA TAKUT AKU TIDAK MEMILIHNYA.
KEBODOHAN GADIS-GADIS PADA UMUMNYA SAMA DENGAN DUNIA PERJUDIAN. MEREKA JUDIKAN
DIRINYA. MEREKA MENGIRA-NGIRA DIRINYA KERTAS, KOMENTATOR SEPAK BOLA. DULU AKU
BUKAN JAGO TARUHAN, AKU DULU MALAH BINTANG LAPANGAN, BARABAH. HE KAPAN PERTANDINGAN
PSSI LAWAN HONGKONG LAGI? KALAU DAPAT RATUSAN RIBU LAGI SEPERTI SI MUIN, AKU
AKAN SUMBANGKAN SAJA KE DEPSOS.
BARABAH : Depsos, pak?
BANIO : DEPARTEMEN SOSIAL.
BODOH. AKU TIDAK MAU RiBUT-RIBUT LAGI SOAL PEMBAGIAN TANAH SEPERTI SI MUIN.
MEMANG MUIN ITU GOBLOK, SANGKANYA TANAH ITU MAU DIBAWANYA MATI SEHINGGA DIA
BERTENGKAR DENGAN UNDANG-UNDANG ALNDIPORM. DASAR MUIN GOBLOK! DALAM HIDUPNYA
DIA BERANGAN-ANGAN AKAN MEMILIKI TANAH, KALAU BIAS TANAH SEJAGAT INI. PADAHAL
KALAU DIA MATI, ORANG CUMA MEMERLUKAN TANAH PALING BANYAK DUA METER BUAT
KUBURANNYA! BETUL JUGA USULMU DULU KETIKA AKU HAMPER BERKELAHI DENGAN POLISI.
HE, AKU TADI MAU CERITA APA?
BARABAH : Dunia kiamat
BANIO : O, IYA. DUNIA KIAMAT!
YA, DUNIA AKAN KIAMAT SUATU KETIKA. DAN SAAT ITU, JANGANKAN BIAS MEMILIKI TANAH
DUA METER, DUA JENGKAL PUN TAK KEBURU LAGI BUAT KUBURANNYA!
(Banio capek, dia mengibas-ngibaskan kain sarung; ia
melihat sekeliling melewati jendela-jendela)
Kau lihat, alangkah suburnya tanah-tanah itu Barabah
BARABAH : Di mana kau akan bangun rumah
buat si Godam?
BANIO : Godam?
BARABAH : Kan dulu bapak yang bilang
anak laki-laki?
BANIO : Apa aku punya anak
laki-laki selama ini?
BARABAH : Bapak sudah bilang padaku,
kalau aku akan punya anak laki-laki
BANIO : OH IYA. IYA…IYA…. SI
GODAM? SI GODAM YANG MAHIR MAIN TAMBUR? TRAM TAM TAM, TRAM TAM TAM. APA KAU
BIAS MENJAMIN BAHWA KAU AKAN BIAS MELAHIRKAN SEORANG ANAK LELAKI YANG NANTI
BIAS PUKUL TAMBUR? TUHAN MAHA TAHU!
BARABAH : Ya. Dulu bapak cerita
bagaimana hebatnya si Godam memukul tambur; tram tam tam, tram tam tam dan
diapit bendera-bendera merah putih dan penonton bersorak sorai.
BANIO : “HIDUP GODAM! HIDUP
GODAM!’ DAN ADA YANG BERKATA “ITU SI GODAM, ANAK LELAKI PAK BANIO DAN BARABAH”
KAU TAHU BARABAH, APA ARTINYA GODAM?
BARABAH : Palu yang berduri!
BANIO : PALU YANG BERDURI TAJAM!
YA, YA, DI SANA RUMAH SI GODAM. DAN DIA TIDAK BOLEH BANYAK KAWIN SEPERTI
BAPAKNYA (MENUNJUK DIRINYA) DAN SI GODAM TIDAK BOLEH GAGAL DALAM PERKAWINAN. O
IYA SIAPA NAMA BINIKU YANG PERTAMA?
BARABAH : (TERTAWA) Kalau tak salah, namanya
Jamilah!
BANIO : Penasaran aku sama dia!
Nama istriku yang kedua?
BARABAH : Rabiatun!
BANIO : OH, IYA RABIATUN. KAU
TAHU APA YANG DITANYAKAN PAMANNYA PADAKU? PAMANNYA BERTANYA “APAKAH KAMU
PEGAWAI NEGERI?” LALU KUJAWAB “SAYA MARSOSE” DAN PAMANNYA KEMBALI BERTANYA
“BERAPA GAJI SEBAGAI MARSOSE?”. INI ADALAH PERTANYAAN YANG PALING KUBENCI! AKU
BENCI ADIK RABIATUN, KAKAK RABIATUN, KAKEK RABIATUN, NENEK RABIATUN, KEPONAKAN
RABIATUN DAN TENTUNYA PAMAN RABIATUN JUGA. MEREKA DATANG MEMUJI-MUJI AKU KARENA
AKU JADI RAJA KARET. TETAPI KETIKA GUBERNEMEN MENANGKAPKU DAN AKU JATUH
MELARAT...
BARABAH : (MEMOTONG) Mereka semua lari
tunggang langgang....!
BANIO : He.... apa sudah
kuceritakan kisah Rabiatun itu?
BARABAH : Sudah sebelas kali
BANIO : Kau ingat nama istriku
yang ketiga?
BARABAH : Bapak dulu bilang bapak lupa
nama istri yang ketiga
BANIO : Yang keempat juga aku
lupa....tapi yang kelima tidak.
BARABAH : YANG MAIN GILA SAMA LAKI-LAKI
LAIN ITU?
BANIO : Iya. Iya. Perempuan
memang berbahaya, Barabah!
BARABAH : Aku tidak mau!
BANIO : KENAPA “AKU TIDAK MAU”?
BARABAH : Ibah tidak pernah main gila
BANIO : Bukan kau Barabah. Kau
baik. Namamu juga bagus; Barabah! Burung pemakan padi. Tapi kau bukan burung
pemakan padi, kau burung yang membenih padi
(Barabah senang mendengarnya, ia menutup matanya dan
tersenyum)
Kenapa senyum-senyum?
(DIAM )
oh iya, aku lupa nama istriku yang ke sembilan. Kau
ingat?
BARABAH : Ingat, yaitu yang kawin dengan
Belanda ketika bapak di tawan
BANIO : DIA BERKHIANAT DUA KALI.
PERTAMA PADA LAKINYA, KEDUA PADA TANAH AIR. O, BUKAN, BUKAN DUA KALI, TAPI TIGA
KALI! DIA MEMBAWA ANAK-ANAKKU YANG PEREMPUAN KE NEGERI BELANDA. AKU TIDAK TAHU
BAGAIMANA MEREKA MENCET MUKA-MUKA ANAK-ANAK PERAWANKU MENJADI PUTIH SUPAYA JADI
BELANDA!
(Barabah terdiam)
Ketawa sedikit dong...ini lucu
(Barabah diam merengut)
Kenapa kau tidak tertawa?
BARABAH : Ibah cemburu!
BANIO : Cemburu? Kau juga ada
rasa cemburu seperti kebanyakan perempuan?
BARABAH : Ibah cemburu bapak akan kawin
lagi. Kaum perempuan cemburu kalau suaminya cerita tentang perempuan lain.
BANIO : KAWIN LAGI? APA KAU
PIKIR AKU INI AKAN MEREBUT REKOR PERKAWINAN TERBANYAK? SEPERTI ORANG-ORANG
MEREBUT PIALA JAGO ANGGAR?
BARABAH : Tapi bapak dulu pernah bilang
mau kawin lagi
BANIO : Kapan? Coba kapan? Aku
bisa marah ini...
BARABAH : Dua bulan yang lalu
BANIO : OOOOO..... ITU CUMA
MAIN-MAIN. SUAMI PERLU SEKALI-KALI MENGUJI BININYA TOH. LAGIPULA AKU INI SUDAH
TUA, BARABAH. DAN INI ADALAH PERKAWINANKU YANG KEDUA BELAS KALI DAN TERAKHIR.
AKU PIKIR ITU SENDIRI SUDAH REKOR DAN AKU PANTAS DAPAT PIALA
(Barabah terdiam. Banio marah)
Kenapa kau terdiam? Kau tentu setuju pada bini-biniku.
Baik, baik Barabah, sebab kau perempuan. Tapi jangan minta aku menangis
tersedu-sedu seperti orang lain, sebab aku sudah gagal selama ini.
(Banio menatap ke luar jendela)
Baru sekarang aku tahu, tanah-tanah itu subur...ketika
aku sudah tua, bongkok dan ubanan dan sebenarnya sudah tidak laku lagi. He, aku
ini sudah tidak bakal laku lagi, meski ditawar-tawar di pasar loakan. Tapi aku
tidak peduli apakah aku tidak akan laku di pasaran atau pegadaian. Biarpun
kualitas loakan, yang penting masih punya semangat bunyi tambur. Tram tam tam
tram tam tam.....
(Seperti teringat sesuatu)
Hee..bagaimana dengan sambel peteku? Aku mau bongkar
rumputan alang itu
(TANGANNYA MENUNJUK KE LUAR JENDELA. KEMUDIAN BANIO MINUM
KOPI)
Alang-alang itu berbahaya betul untuk ladang, bahkan
tanganku luka karenanya.
(KEMUDIAN BANIO MENGIKATKAN KAIN SARUNG KE PINGGANGNYA
DAN KEMUDIAN MEMBERIKAN KEPADA ISTRINYA TEMPAT TEMBAKAU ROKOK. BARABAH
MENGGULUNGKAN DAUN ROKOK BUAT SUAMINYA)
Aku kepingin naik kapal terbang suatu kali
BARABAH : Naik kapal terbang?
BANIO : IYA. CUMA ITU YANG BELUM
PERNAH KUNAIKI. AKU SUDAH PERNAH NAIK MOBIL, SEPUR, KUDA, KERBAU DAN BAHKAN
NAIK GUNUNG. SEMUA SUDAH PERNAH, KECUALI NAIK KAPAL TERBANG. AKU MELIHAT POTO
BUNG KARNO NAIK HELIKOPTER.
BARABAH : Bapak bersihkan saja dulu
alang-alang itu, biar kapal terbangnya bisa mendarat di stitu
MEMBERIKAN LINTINGAN ROKOK TADI
BANIO : (KETIKA ROKOK ITU
DIPELINTIRKAN DI BIBIRNYA, BANIO MEMBENTAK) Mana korek apinya!?
BARABAH : Itu, di atas meja
BANIO : (SENYUM MAHAL) Iya, tapi
tolonglah korekkan sedikit
(Barabah menyalakan korek api, tapi banio meniupnya.
Terjadi beberapa kali. Setelahnya barulah api korek itu membakar rokoknya)
Dari sebanyak itu biniku, Cuma kaulah...hmmmm....saya
menyebutnya....Cuma kaulah yang bisa memasangkan korek api dengan benar. Aku
janji aku tidak akan kawin lagi!
ADEGAN II
BARABAH MEMBUKA PINTU DAN NAMPAKLAH SEORANG PEREMPUAN
MUDA YAITU ZAITUN. IA MEMPERSILAHKAN ZAITUN MASUK. IA BERJALAN LEBIH DULU KE
DALAM, KETIKA IA MEMBALIKKAN TUBUHNYA, DILIHATNYA ZAITUN MASIH TERPESONA
MEMANDANGI ISI RUMAHNYA. BARABAH CURIGA, TAPI IA BERUSAHA MENUTUPINYA
BARABAH : Masuklah...
(heran dengan kelakuan Zaitun)
Ada apa?
ZAITUN : Saya melihat cicak
BARABAH : Cicak atau tikus?
ZAITUN : (MELANGKAH MASUK) Cicak.
Sepasang cicak yang saling memburu. Ibu saya menafsirkan itu adalah pertanda
jodoh
BARABAH : Jodoh?
ZAITUN : Ya, jodoh. Ibu saya ahli
sekali dalam hal bertenung kartu
BARABAH : Silakan duduk
ZAITUN : (DUDUK) Cicak-cicak itu firasat
yang baik. Begitu saya masuk, begitu ada pertanda
BARABAH : Saya belum pernah mendengar
takhayul seperti itu
ZAITUN : O, ibu saya ahli
pertakhayulan. Cicak-cicak itu pertanda baik juga dalam takhayul, kecuali kalau
kucing berkelahi
BARABAH :Dan firasat yang tadi, apakah membaikkan
bagi saya atau situ?
ZAITUN : Bagi saya
BARABAH : (KECEWA TAPI MASIH TERTARIK) Jadi,
itu berarti akan terjadi pertemuan jodoh?
ZAITUN : Ya. Akan terjadi
perkawinan yang bahagia
BARABAH : Perkawinan siapa?
ZAITUN : Kalau menurut takhayul,
yang melihatlah yang akan kawin
BARABAH : Siapa?
ZAITUN : (GUGUP) Tentulah....tentulah
saya. Maaf, saya ingin bertanya dulu. Apa betul ini rumah pak Banio? Sebenarnya
saya tadi sudah menanyakan pada orang-orang di seberang jalan, Cuma saya takut
salah.
BARABAH : IYA BETUL. INI RUMAH PAK BANIO
ZAITUN : Bolehkah saya bertemu
dengan pak Banio? Saya Zaitun.
(Barabah Terdiam)
Bilanglah ada tamu jauh. Katakan Zaitun datang, tentu
beliau nanti akan tahu
BARABAH : Beliau sekarang ada di ladang
ZAITUN : Sedang apa beliau di sana?
BARABAH : (KESAL) Beliau di ladang sedang
mencabuti alang-alang...!
ZAITUN : Oh.....rajinnya. ternyata
meskipun sudah tua, beliau masih kuat
BARABAH : Kuat?
ZAITUN : IYA, KUAT MENCABUTI
ALANG-ALANG. SEBENARNYA KAN ILALANG ITU SUKAR SEKALI DICABUT. MESTI PAKAI
TRAKTOR, BARU AKARNYA AKAN TERBONGKAR.
BARABAH : TAPI SUAMI SAYA MEMANG KUAT.
BELIAU TIDAK PERNAH MEMERLUKAN TRAKTOR UNTUK MENCABUT AKAR-AKAR ILALANG YANG
BANYAK ITU. BELIAU PUNYA BANYAK PIARAAAN ILALANG DAN DAUN ILALANG ITU
TAJAM-TAJAM BUKAN?
ZAITUN : O, tentu saja. Waktu kecil
pun saya pernah menangis karena dilukai daun-daun ilalang, lalu saya mengadu
pada bapak saya. Tapi malah ia marah-marah....
(ketawa)
O, saya lupa bertanya, piaraan? Apa ilalang itu dulu
sengaja ditanam dan dibuat ladang?
BARABAH : Sengaja!
ZAITUN : masyaAllah
BARABAH : DI SITU JANGAN KAGET. SUAMI
SAYA, MEMPUNYAI DUA BELAS LADANG ILALANG, ILALANG YANG TIDAK PERNAH
DIPELIHARANYA BAIK-BAIK, SEPERTI TERHADAP ISTRI-ISTRINYA. DAN SEKARANG,
RUPA-RIPANYA BELIAU AKAN MENCABUT RUMPUN ILALANG YANG KEDUA BELAS
ZAITUN : O, syukurlah...
BARABAH : Syukur?
ZAITUN : Ya, syukur.
(MERASA GELI DAN BERMAKSUD MENYENANGKAN HATI BARABAH)
Nantinya, tentu beliau akan menanam lagi ladang ilalang
yang ke tiga belas. O, saya lupa bertanya. Apa beliau sehat saja?
BARABAH : KALAU TIDAK SEHAT, MASA BELIAU
SANGGUP MEMBIKIN LADANG ILALANG DUA BELAS KALI. DAN SEKARANG, SESUDAH DI TANAM,
YANG KEDUA BELAS ITU AKAN DICABUTNYA PULA. SEKARANG MAU CARI BIBIT ILALANG
KETIGA BELAS! ILALANG YANG MONTOK!
ZAITUN : O, begitu. Lucu juga
beliau
BARABAH : MEMANG LUCU, SEHINGGA SEMUA
KEJADIAN-KEJADIAN YANG BELIAU BIKIN ADALAH LELUCON BAGI SAYA. DAN TERKADANG
LELUCON ITU MENYAKITKAN HATI JUGA.
ZAITUN : Memang. Tapi tadi di atas
kereta api, waktu saya mau kesini, ada lelucon
BARABAH : Hmmm....
ZAITUN : Ada dua orang muda-mudi,
di atas kereta ketika ditanyai karcis, mereka pura-pura tidur ngorok
BARABAH : Hmmm, saya juga pernah melihat
penipuan begitu. Tapi bukan anak muda. Yang menipu itu adalah gadis, gadis
montok
ZAITUN : Hah.... sepertinya lucu
juga
BARABAH : Buat saya sendiri tidak lucu.
Mereka itu setidak-tidaknya pernah sekolah, pernah diajar gurunya, kalau naik
kereta api mesti beli karcis. Malah mereka menyerobot macam garong saja. Mereka
itu harusnya ditangkap. Tidak peduli mereka itu siapa!
ZAITUN : Benar juga
BARABAH : Memang benar! Kecuali,
kecuali....kecuali kalai kepala stasiun telah memberikan karcis gratis. Tapi
semestinya di zaman merdeka ini, tidak boleh ada karcis gratis. Itu korupsi
halus! Tidak demokratis!
ZAITUN : BETUL, SAYA SETUJU. ITU
KORUPSI HALUS! MEMANG TIDAK DEMOKRATIS
BARABAH : Itu juga semacam garong di
siang hari!
ZAITUN : Betul. Betul, itu garong
di siang hari. Oh iya. Bapak mana ya? Apa bisa beliau dipanggil sebentar? Saya
ada perlu sekali
BARABAH : Perlu sekali? Soal apa
kira-kira yang akan disampaikan?
ZAITUN : Sebenarnya saya malu
mengatakannya bu...
BARABAH MERASA SENANG MENDENGAR KATA ‘BU’
BARABAH : Ah, jangan malu-malu, nanti
saya katakan
ZAITUN : (RAGU) Ini....ini....Soal
perkawinan
BARABAH : Perkawinan siapa?
ZAITUN : saya
(Barabah terdiam, mencoba menyembunyikan kegelisahannya
dan pura-pura mendongakan kepalanya ke arah jendela)
Iya, perkawinan
BARABAH : Apa sudah gawat betul?
ZAITUN : Dibilang gawat ya, tidak.
Tapi ini penting
BARABAH : SOAL PERKAWINAN MEMANG PENTING,
HARUS DIPIKIRKAN MASAK-MASAK. SAMA SEPERTI PARA PEREMPUAN MENANAK NASI, KALAU
KURANG MASAK, AKAN TERASA KERASNYA. KALAU TERLALU MASAK MALAH MUTUNG DAN
LAKI-LAKI AKAN MENCELA KITA. KATA MEREKA KITA SEMBRONO. LAKI-LAKI MEMANG CUMA
TAHU MAKAN DAN MENGOCEH SAJA PADA PEREMPUAN, BIAR PUN (MENDADAK BERURAI AIR
MATA) BIARPUN KITA PEREMPUAN SUDAH SUSAH PAYAH MEMASAKKAN NASI DAN MEMBIKINKAN
SAMBEL PETE KESUKAANNYA.
(Zaitun merasa heran, lantas dia mencoba mendekati
barabah bermaksud merujuk. Tapi barabah tidak mau)
Aku tidak mau dipegang siapapun lagi
ZAITUN : Kenapa? Maaf kalau ada
kata-kata menyinggung perasaan ibu
BARABAH : Perempuan tidak salah,
laki-lakilah yang salah
ZAITUN : MEMANG LAKI-LAKI YANG
SALAH DAN KITA BENAR. MAAF BU KALAU KATA-KATA SAYA TENTANG ANAK-ANAK YANG TIDAK
MEMBELI KARCIS KERETA API TADI MENYINGGUNG PERASAAN IBU
BARABAH : Jangan pidato panjang lagi di
rumah ini. Kau juga tidak membeli karcis
ZAITUN : (MERASA TERSINGGUNG) Ada apa
ini? Saya membeli karcis. Bahkan saya membeli dua karcis. Kenapa saya dituduh
demikian? Saya masih punya uang dan saya masih....masih....
BARABAH : (MEMOTONG) Jangan mulai pidato
lagi! Kau telah membawa cicak-cicak ke rumah saya ini. Rumah ini bukan rumah
takhayul atau kantor nikah. Rumah ini rumah saya dan suami saya
ZAITUN : Saya tahu, saya tahu
BARABAH : SEJAK ENGKAU DATANG TADi, SAYA
SUDAH SABAR-SABARKAN HATI. SAYA SUDAH MENYINDIR-NYINDIR TAPI RUPANYA SAYA
DIBIARKAN PANAS PENASARAN
(MENANGIS TERSEDU-SEDU)
Saya tidak mau melepaskan dia seperti sebelas istrinya
yang lain itu
(Zaitun kaget dengan ucapan Barabah itu, ia beranjak ke
pintu dan berdiam di situ. Melihatnya Barabah makin kesal dan menantangnya)
Jangan lama-lama berdiri di situ! Saya sudah cukup sabar.
Nanti kau melihat cicak di loteng lagi dan kau akan berpidato lagi tentang
kawin
ZAITUN : Ini tentang perkawinan
saya, bukan perkawinan ibu!
PERGI. KETIKA ZAITUN SUDAH PERGI, BARABAH BERKATA LIRIH
SAMBIL TERSENDAT-SENDAT MEREDAKAN TANGISNYA SENDIRI
BARABAH : Dikiranya aku ini masih bocah
atau nenek-nenek yang sudah lemah apa?
(Barabah duduk di kursi dan tangannya mengambil gelas
besar dan minum darinya. Ia tersadar itu gelas kopi suaminya, lalu ditaruhnya
kembali)
Kopinya tak mau diminum lagi! Bukan laki-laki saja yang
mata keranjang, perempuan juga mata keranjang! Untung dia tidak lama-lama di
sini. Dan untung pula tanganku tidak memegang pisau penumis cabe. Kalau ada,
sudah kupotong-potong dagingnya yang montok itu dan kubumbui cabe! Biar dia
tahu, aku ini perempuan yang bukan saja bisa mengiris-ngiris cabe tapi juga...
(menangis lagi)
Tapi juga perempuan yang bisa mengiris perempuan. Biar
dia tahu! Biar! Tidak peduli dia mengadu pada polisi, biar!
BARABAH PERGI KE JENDELA. BARABAH TIDAK MENYADARI KALAU
DIAKHIR OCEHANNYA, BANIO SUDAH MASUK LEWAT PINTU BELAKANG
BANIO : Ada apa semua ini?
BARABAH : Ibah tidak peduli apakah bapak
akan memarahi saya, tapi dia telah saya usir!
MENGHINDARKAN DIRI
BANIO : Siapa? Laki-laki?
BARABAH : Perempuan
MENGHINDARKAN DIRI
BANIO : O, kukira laki-laki
BARABAH BERUSAHA MENGHINDAR DARI TATAPAN BANIO SAMBIL
MENGATAKAN KALAU IA TIDAK MAU MELIHAT SUAMINYA
BARABAH : Katakan terus terang kalau
bapak mau kawin lagi
BANIO : Siapa? Aku?
BARABAH : Iya! Siapa lagi!? Biar bapak
dapat piala
BANIO : Barabah! Jangan sindir
aku! Aku sudah tua!
BARABAH : Tapi buktinya, telah datang
seorang perempuan menanyakan bapak! Dia memaksa saya untuk memanggil bapak ke
ladang. Tapi saya menolak! Saya tidak mau membiarkan suami saya diambil
seenaknya oleh perempuan lain.
BANIO : Siapa perempuan itu!?
KARENA KECAPEKAN BERPUTAR-PUTRA RUANGAN, BARABAH DUDUK DI
PETI. BANIO MENYADARI APA YANG TERJADI, KEMUDIAN DIA BERKATA LEMBUT
Siapa perempuan, Barabah?
BARABAH : Ibah hampir saja mengirisnya
dengan pisau cap garpu yang bapak beli dulu
BANIO : O...TAK APA. ASAL JANGAN
AKU YANG KAU IRIS
BARABAH MENANGIS LAGI
BARABAH : Tapi Ibah tak mau bapak
direbutnya. Dia sudah kuusir dan tidak saya eprbolehkan menginjak rumah ini
lagi. Ibah berjanji akan mencakar mukanya! Ibah mau menangis lagi sekarang
BANIO : Karena apa?
BARABAH : Karena Ibah tidak mau jadi
janda yang dicerai. Karena Ibah tidak mau kehilangan laki
BANIO : Kau belum pernah marah
sehebat ini. Seperti orang ngidam saja, sampai kau harus mengusirnya
BARABAH : Karena Ibah cemburu, marah,
benci melihatnya!
BANIO : (TERSENYUM) Ini baru bini
namanya. Semua biniku selama ini tidak ada yang berterus terang padaku, kecuali
kau Barabah.
(Membelai rambut Barabah)
Karena itu, aku ingin mengakhiri kemarahanmu, kebencianmu,
kecemburuanmu dan prasangkamu padaku. Aku ini sudah tua Barabah. Yang kau lihat
sekarang ini bukan kerangka hidup, tapi sisa-sisanya. Aku sudah tidak mau sisa
hidupku yang sedikit ini kukotori lagi, sebab hidupku yang dulu sudah cukup
menjijikan. Kau dengar itu semua, Barabah? Nah, sekarang aku mau tanya lagi
padamu. Siapa perempuan yang datang tadi? Coba tenang sedikit. Tuhkan, dekat
hidungmu ada air matanya
(Barabah lekas menghapusnya)
Sekarang, sebutkan siapa nama perempuan itu?
BARABAH : Dia Cuma seorang perempuan
BARABAH : Tidak ingat lagi. Ibah
pening...
BANIO : Mari kupijit kepalamu
yang pening itu
BANIO BERMAKSUD MEMIJIT KEPALA BARABAH, TAPI SEGERA
BARABAH MENCEGAH
BARABAH : Ibah tidak pening lagi. Nama perempuan
itu Zaitun
BANIO : Sebesar siapa dia?
Darimana dia datang?
BARABAH : Sebesar Ibah, Cuma dia lebih
montok
BANIO : Montok....kalau
laki-laki melihat perempuan montok, terbakar hatinya sebab gairah. Tetapi kalau
perempuan melihat perempuan montok, terbakar hatinya sebab iri hati. Apa kau
iri Barabah?
BARABAH : Iya!
BANIO : Kau jujur! Aku senang
manusia jujur biarpun dia bodoh. Sekarang katakan apa maksud ia datang kemari.
BARABAH : MULA-MULA IA MELIHAT SEPSANG
CICAK DI ATAS LOTENG RUMAH KITA ITU, LALU IA MEMPERSOALKAN JODOH. LALU DIA
CERITA SOAL TAKHAYUL DAN KEMUDIAN MENCERITAKAN TENUNG KARTU. DIA BIKIN LELUCON
YANG TIDAK LUCU TENTANG DUA PELAJAR YANG TIDAK MEMBELI KARCIS KERETA API.
BANIO : Jadi kalau begitu dia
datang dengan kereta api
(tiba-tiba ingat)
Apa kau bilang? Bertenung dengan kartu? Ah, aku benci
dengan perempuan yang bertenung dengan dartu dan memang sudah sepantasnya dia
kau usir. Aku benci sama perempuan-perempuan yang suka takhayul dan
ramalan-ramalan
BARABAH : Neneknya barangkali penjudi
BANIO : Tidak peduli biarpun
nenek dan buyutnya sekalian. Pokoknya aku benci perempuan yang menghabiskan
waktunya sehari-hari dengan menghadapi kartu-kartu dan biasanya mereka
meramalkan suami atau pacarnya! Bukan lelaki saja yang mesti bekerja, perempuan
juga. Dan main tenung kartu itu adalah kerjaan yang kurang kerjaan
BARABAH : Dia datang ke sini mau kawin!
BANIO : Mau kawin?
BARABAH : Iya, kawin. Dia menanyakan
bapak
BANIO : MENANYAKAN AKU!? HAH,
PEREMPUAN MACAM APA ITU? SETAN BARANGKALI! KAU TIDAK SALAH LIHAT SIAPA YANG
DATANG TADI? BARANGKALI CUMA HAYALANMU SAJA. COBA KAU GOSOK-GOSOK MATAMU DULU.
(Diam sejenak)
Zaitun? Beribu-ribu orang yang bernama Zaitun di dunia
tuhan ini! Nenek dan buyut ibuku juga bernama Zaitun. Sekarang aku bertanya,
ini Zaitun yang bagaimana dari ribuan orang yang bernama Zaitun itu?
BARABAH : Ini Zaitun yang montok dan
akan kawin. Mungkin dengan bapak!
BANIO : Tidak mungkin, tidak
mungkin. Aku sudah bersumpah tidak akan kawin-cerai lagi dan engkau adalah
perkawinanku kedua belas dan terakhir. Tapi sekarang aku bertanya, kau masih
cemburu?
BARABAH : Masih.
BANIO : Ini mesti diselesaikan
hari ini juga kalau begitu. Apa sepeda masih ada dalam gudang?
BARABAH : Bapak mau kemana?
BANIO : MAU KE STASIUN DAN
MENGUMUMKAN DI CORONG STASIUN UNTUK MEMANGGIL PEREMPUAN JAHANAM YANG BIKIN
KACAU ITU KESINI UNTUK DIPERIKSA APAKAH DIA SEHAT ATAU SINTING. HE, KENAPA KAU
DIAM SAJA? APA KAU PIKIR SI TUA INI TIDAK KUAT LAGI NAIK SEPEDA!? AKU PERNAH
JADI JUARA LOMBA SEPEDA KETIKA BAN-BAN SEPEDA MASIH BAN MATI. KAU TUNGGU
SEBENTAR DI SINI.
BARABAH MELIHAT SUAMINYA PERGI KE BELAKANG, LALU IA
BERKATA SENDIRI
BARABAH : MEMANG DIA PEREMPUAN JAHANAM,
MAU MENYEROBOT LAKI ORANG. DULU KETIKA AKU KAWIN DENGAN DIA, AKU BUKAN
MENYEROBOTNYA. IA TELAH BERCERAI ENAM TAHUN LAMANYA DARI ISTRINYA YANG KE
SEBELAS. AKU DIPINANGNYA SEPERTI JEJAKA MEMINANG GADIS.
BANIO MUNCUL
BANIO : Kenapa kau ngomong
sendiri? Nanti kau dianggap orang gila lagi. Aku berangkat.
BANIO PERGI MEMBAWA SEPEDA ONTELNYA, BARABAH MENGANTARNYA
SAMPAI KE PINTU. MENUTUP PINTU ITU DAN BERANJAK KEMBALI KE PETI DAN BERMAKSUD
MENYULAM. TAK BERAPA LAMA, TERDENGAR KETUKAN PINTU.
ADEGAN III
BARABAH MENYAMBANGI PINTU, DIBUKA DAN NAMPAK ADIBUL YANG
TUBUHNYA KEKAR TAPI AGAK SEDIKIT BONGKOK. IA MELIHAT LOTENG
BARABAH : Apa saudara melihat cicak di
situ?
ADIBUL : Tidak.
BARABAH : Apa saudara polisi?
ADIBUL : Bukan. Saya kusir
BARABAH : Bohong! Pasti saudara polisi
ADIBUL : MEMANG SAYA DARI KANTOR
POLISI, TAPI SAYA BUKAN POLISI. SAYA KUSIR SADO.
BARABAH : YA, YA. SAYA TAHU, SAUDARA
ADALAH POLISI RESERSES SEPERTI KATA ORANG, YANG TIDAK MEMAKAI PAKAIAN DINAS.
BIAR PUN BEGITU, SAYA TIDAK TAKUT. MANA PEREMPUAN ITU! YA, YA, SAYA TAHU
PEREMPUAN ITU TELAH MENGADU KE KANTOR POLISI KALAU SAYA SUDAH MENGUSIRNYA, TAPI
SAYA TIDAK TAKUT. SAYA TIDAK TAKUT, KEPADA SIAPA SAJA YANG BERANI MELAWAN HAK
SAYA. APALAGI KALAU HAK ITU MENYANGKUT SUAMI SAYA. DIA ADALAH SUAMI SAYA DAN
BUKAN SUAMI ORANG.
ADIBUL : Ya, itulah maksud saya
BARABAH : Apa maksud saudara?
ADIBUL : Ingin bertemu dengan
suami ibu
BARABAH : Ingin bertemu dengan suami
saya?
ADIBUL : Ya.
BARABAH : (TEGAS) Dia tidak ada!
ADIBUL : Kalau begitu, bolehkah
saya menunggu sampai dia datang?
BARABAH MULAI MEMERHATIKAN ADIBUL DARI UJUNG RAMBUT
SAMPAI UJUNG KAKI
BARABAH : KITA ORANG TIMUR. TIDAK
DEMIKIAN SEBENARNYA MAKSUD SAYA CARA MENERIMA TAMU. KAMI ORANG UDIK SEPERTI
DIKATAKAN ORANG-ORANG KOTA. TAPI DALAM SOAL TETEK BENGEK, KAMI TIDAK PERNAH
MENGADU PADA POLISI, KECUALI SOAL-SOAL PENCURIAN ATAU PEMBUNUHAN. TAPI SAYA
PERCAYA, POLISI-POLISI KAMI TIDAK AKAN MELADENI PEREMPUAN MACAM DIA. DAN
SAUDARA PASTI BUKAN POLISI DARI DAERAH KAMI INI.
ADIBUL : Memang. Memang benar.
BARABAH : Kalau saya akan ditangkap soal
pengaduan perempuan itu yang semuanya tentu hanya omong kosong, saya terima.
Dengan catatan kalau yang menangkap adalah polisi-polisi kami.
ADIBUL : SAYA AKAN MENANGKAP IBU?
TIDAK. SUNGGUH MATI, TIDAK. MALAHAN SAYA YANG PERNAH DITANGKAP POLISI SEWAKTU
MENABRAK ANAK KECIL DENGAN SADO SAYA. SAYA INI KUSIR, TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA
DENGAN POLISI. JIKALAU ADA, ARTINYA SAYA MELANGGAR PERATURAN LALU LINTAS.
BARABAH : BUNG, KITA INI ORANG TIMUR.
SAYA BISA MENGHORMATI TAMU-TAMU SAYA. TAPI SUAMI SAYA MEMESANKAN, JANGANLAH
MENERIMA TAMU LELAKI KETIKA SUAMI TIDAK ADA DI RUMAH. SAUDARA SEPUPU SAYA YANG
LELAKI SAJA TERPAKSA SAYA SURUH BERKELILING DULU SEBELUM SUAMI SAYA DATANG.
ADIBUL : TAPI SAYA DATANG DENGAN
MAKSUD BAIK. SAYA BUKAN LELAKI SEMBARANGAN
BARABAH : Saya juga bukan perempuan
sembarangan! Suami saya sekarang tidak ada di rumah. Ia pergi ke stasiun
ADIBUL : Mau apa ke stasiun?
BARABAH : Mau mencari perempuan jahanam
itu. Ya, perempuan itu betul-betul ayam putih kesiangan!
ADIBUL : PEREMPUAN JAHANAM?
SIAPAKAH NAMANYA?
BARABAH : Siapa namanya, tidak penting
disebut. Sebab perempuan jahanam macam dia tidak perlu punya nama. Karena
mereka mencemarkan nama mereka sendiri dengan kelakuannya yang terkutuk
ADIBUL : Oh, begitu.
BARABAH : Jangan berlagak bodoh bung.
Saya memang boleh kau tuduh perempuan judes. Boleh saja. Saya juga menghormati
ada sopan santun, tapi itu pun ada batasnya. Saya dari tadi pusing kepala
memikirkan nasib saya.
(lesu)
Saya tidak peduli akan marah sama polisi atau pak kapten.
Saya kalau marah, sering lupa diri. Perempuan-perempuan memang begitu kalau
cemburunya datang.
ADIBUL : Memang begitu
BARABAH PERGI DUDUK KE PETI
BARABAH : SAYA PUSING KALAU MEMIKIRKAN
LELAKI. SEMUA PEREMPUAN PUSING KALAU MEMIKIRKAN KELAKUAN SUAMINYA. TIAP HARI
SAYA MERENDA BAJU UNTUK ANAK SAYA YANG BAKAL LAHIR, BEGITU SETIANYA SAYA,
TETAPI LELAKI TIDAK PERNAH SEDIKITPUN BERTERIMA KASIH PADA PEREMPUAN. MALAH
MEREKA MENGEJEK MASAKAN ISTRINYA, GULAI YANG KEBANYAKAN SANTANLAH, IKAN ASIN YANG
KELIWAT ASINLAH. MANA ADA IKAN ASIN YANG TIDAK ASIN?
ADIBUL : Semua ikan asin memang
asin!
BARABAH : Tapi selalu kalian laki-laki
mengatakan ikan asin kelewat asin! Itu kesalahan pabrik ikan asinm, bukan
kesalahan bini mereka!
ADIBUL : YA, MEMANG KESALAHAN
PABRIKNYA. PABRIK-PABRIK ITU MESTI DIRITUIL, BU.
BARABAH : orang-orangnya juga mesti
dirituil.seperti yang saya baca di koran
ADIBUL : (Duduk secara tak sadar) Ibu
suka baca koran?
BARABAH : Ya. kalau saya pulang belanja
di depan kantor penerangan
ADIBUL : Belakangan ini saya
membaca sering terjadi penyelundupan beras
BARABAH : Itu kerjaan lelaki! Perempuan
cuma tahu menanak nasi!
ADIBUL : Tapi lelaki yang
menyelundupkan beras, kebanyakan atas anjuran istrinya
BARABAH : Iya, disitulah kesalahan
perempuan. Itu saya akui
MENDADAK BANIO MUNCUL DARI PINTU DEPAN SAMBIL BERTERIAK
MENGGERUTU
BANIO : Sial! Dia tidak ada di
stasiun. Mana ban sepeda ku kempes lagi!
SAAT MASUK, BANIO KAGET MELIHAT ADIBUL
BARABAH : POLISI INI MENCARI BAPAK
BANIO : Mana pakaian dinasmu
kalau kau betul-betul polisi!?
BARABAH : Dia menyamar
BANIO : Menyamar? Oh, ya, iya.
Laki-laki mata keranjang memang suka menyamar kalau datang ke rumah bini orang.
Busyet benar!
(Pada Barabah)
He, inikah perempuan yang kau bilang itu Barabah?
ADIBUL : Saya bukan polisi, saya
kusir!
BANIO : Diam kau! Saya tidak
bertanya pada kau!
(Pada Barabah)
Inikah perempuan berkumis itu? Hmm, baru kali ini selama
hidupku melihat perempuan berkumis dan rambutnya seperti jambul kuda
ADIBUL : Memang saya saban hari
bergaul dengan kuda, pak. Bagaimana bapak bisa tahu itu?
BANIO : DIAM! BUSYET, TERNYATA
KAU INI BUKAN HANYA BERGAUL DENGAN KUDA, TAPI PANDAI JUGA BERGAUL DENGAN
PEREMPUAN. BARABAH! KAU MULAI MEMBOHONGIKU, SEPERTI JUGA ISTRIKU YANG KELIMA
DAN KESEMBILAN! KAU BETUL-BETUL BURUNG BARABAH; DIAM-DIAM MEMAKAN PADI!
BARABAH : Aku tidak berbuat apa-apa pak!
BANIO : bohong! Siapkan semua
pakaian-pakaianmu dan masukan dalam keranjang!
BARABAH : Tapi....tadi saya malah
mengusir dia!
ADIBUL : Ya, pak. Saya diusirnya!
BANIO : KAU LELAKI MATA
KERANJANG YANG TOLOL! KALAU PEREMPUAN MENGUSIR, ITU TANDA PURA-PURA. KENAPA KAU
TIDAK BUJUK TERUS SAMPAI BERHASIL? MEMBUJUK PEREMPUAN HARUS BERANGSUR-ANGSUR,
TOLOL. BUKAN SEKALI BUJUK TERUS KAU RAMPAS!
ADIBUL : Saya tidak membujuknya.
Saya mau ketemu dengan pak Banio! Bapak sudah dikenal sampai ke kota. Saya
kenal bapak adalah seorang jagoan!
BANIO : TAPI KAU BERLAGAK JAGOAN
HARI INI DENGAN KELAKUANMU! KALAU KAU MAU COBA? BOLEH, AKU BIKIN KAU MATI
SEKALIAN!
(PADA BARABAH)
HE, DIA LELAKI JAGOAN YA?
BARABAH : Ibah tidak tahu. Dia polisi
ADIBUL : saya bukan polisi. Saya
ini kusir bendi
BANIO : Diam kalian berdua!
Kalian sudah salah bikin siasat! Harusnya kalian berdua berembuk dulu soal
pekerjaan kau
(MENUNJUK ADIBUL)
DAN KALAU PERLU PAKAI NAMA SAMARAN. DAN KAU JUGA BARABAH!
KAU MESTINYA TIDAK SALAH MEENYEBUT PADAKU KALAU DIA INI LAKI-LAKI DAN BUKAN
PEREMPUAN. POTONG DULU KUMISNYA DAN PANJANGKAN DULU RAMBUTNYA YANG SEPERTI KUDA
JANTAN ITU, BARU KAU NAMAKAN DIA PEREMPUAN.
BEDEBAH KALIAN BERDUA! HAYO, KELUAR KAU DARI RUMAHKU!
(PADA ADIBUL)
KAU JANGAN PERGI DULU KALAU KAU BETUL-BETUL LELAKI
JANTAN. KAU TUNGGU DI LUAR SAMPAI SAYA DAN BINI SAYA BERES!
ADIBUL : Tapi saya kusir dan saya
datang ke sini untuk....
BANIO : (Memotong) Untuk apa ha?
Untuk naik sado?
ADIBUL : Untuk mengurus perkawinan
BANIO : Tepat! Cocok! Nomor tebakan
ini betul-betul tidak meleset!
(ADIBUL KETAWA SENANG)
Kenapa kau tertawa? Kau pikir ini lelucon?
ADIBUL : Saya tertawa sebab saya
gembira
BANIO : Gembira? Gembira karena
kau dapat merampas hak milik orang lain?
ADIBUL : bukan, bukan itu pak.
Gembira sebab bapak bisa menebak!
BANIO : Kau pikir aku ini
kakek-kakek linglung apa? Biarpun aku sudah tua, aku masih bisa menebak
gerak-gerik hati orang!
ADIBUL : YA, JUSTRU KARENA ITU!
SAYA SENANG BAPAK BISA MENEBAK GERAK-GERIK HATI SAYA
BANIO : Bajingan kau!
(MENDEKATI ADIBUL DAN MENGUKUR KEKUATANNYA DENGAN DIRINYA
YANG SUDAH TUA)
KAU JAGOAN JUGA RUPANYA YA?
ADIBUL : Bukan pak. Tapi
koran-koran di kota menulis bahwa saya jagoan
BANIO : Jagoan apa?
ADIBUL : Ya, cuma berkelahi dengan
seekor harimau. Saya jadi malu dengan muka cacat saya ini!
BANIO : Jadi kau lah orangnya
yang ditulis di koran-koran itu. Bagus! Tapi kau jangan sombong dulu. Yang
berdiri dihadapanmu ini
(MENEPUK DADA)
BUKAN SAJA TELAH MENYATE SEEKOR MACAN, TAPI TUJUH EKOR
MACAN! KAU BELUM APA-APA SUDAH BERLAGAK SEPERTI JAGOAN.
COBA KAU LIHAT PUNGGUNG DAN DADA SAYA INI
(MEMBUKA PAKAIANNYA, NAMPAK BEKAS CAKARAN)
BELUM LAGI YANG DI PUNGGUNG SAYA. TUJUH EKOR MACAN SUDAH
KUBUNUH, DAN COBA KAU PERIKSA GUDANG BELAKANG, ADA TUJUH EKOR MACAN DAN SUDAH
DITAWAR SEPULUH RIBU PER KEPALA.
TAPI AKU BUKAN ORANG SERAKAH MAU JUAL KEBANGGAANKU UNTUK
SOMBONG. TAPI KAU BARU SATU EKOR SUDAH BERLAGAK JADI JAGOAN! KAU LAGAK YA,
MENTANG-MENTANG MASIH MUDA?
ADIBUL : Saya tidak berlagak jadi
jagoan pak, koran-koran itu yang menulis
BANIO : KORAN-KORAN MEMANG SUKA
SENSASI. DULU AKU TIDAK TAHU ARTI PERKATAAN SENSASI. TAPI MELIHAT HUBUNGAN
ANTARA KAMU DAN BINI SAYA SEPERTI YANG SAYA LIHAT INI. KALAU SAYA WARTAWAN GOT,
TENTU SAYA SUDAH BIKIN SENSASI DI KORAN
ADIBUL : HUBUNGAN? HUBUNGAN APA?
SAYA MALAH NAMA BINI BAPAK SAJA SAYA TIDAK TAHU.
BANIO : bohong!
(KEPADA BARABAH)
BARABAH! BETUL DIA TIDAK KENAL NAMAMU?
BARABAH : Betul. Saya juga tidak kenal
namanya
BANIO : AH! KENAPA KALIAN TIDAK
KOMPAK SEPERTI MODEL ZAMAN SEKARANG. SIALAN KALIAN! SIAL BETUL! KALIAN BERDUA
BETUL-BETUL GOBLOK!
ADIBUL : Saya tidak goblok!
BANIO : Siapa bilang kau tidak
goblok!?
ADIBUL : Saya yang bilang
BANIO : Kau ngotot ya!?
Mentang-mentang kau masih muda!? Baiklah, baik! Sekarang kau keluar! Tapi….
ADIBUL : (Heran) Tapi….tapi apa pak?
BANIO : Ah, sudahlah! keluar!
Keluar kataku sebelum saya naik pitam!
ADIBUL KAGET LALU KELUAR. BANIO MENYABARKAN HATINYA, DIA
PUN DUDUK DI KURSI. DIA MENGURUT-URUT KENINNYA. DIA TERDIAM LAMA MELIHAT
BARABAH TAK MENANGIS
BANIO : Kau tahu kenapa aku
diam, Barabah?
(Barabah tak menjawab)
Aku diam sebab kau tidak menangis. Aku menunggu kau
menangis, seperti bini-biniku dulu menangis untuk menyembunyikan kesalahannya.
Kau lebih kuat, kau perempuan kuat. Akh, biarpun marah, aku tetap kagum padamu,
Barabah. Kau istriku berbeda dari yang lain.
(suaranya melembut)
Sekarang aku ingin bertanya padamu, Barabah. Siapa lelaki
bertampang buruk itu?
BARABAH : Saya tidak tahu, pak
BANIO : Bohong!
(Berdiri, menatap wajah Barabah. Barabah membalas tatapan
itu dengan tajam)
Matamu berkata, bahwa kau tidak berbohong
BARABAH : Kenapa bapak marah betul
kelihatannya?
BANIO : Sebab aku cemburu
BARABAH : (Kaget) Hah? Bapak cemburu? Kenapa
pula bapak cemburu?
BANIO : Sebab lelaki muda itu.
Sebab kau juga muda. Kami yang tua-tua ini tak bias kembali muda. Sebab itu aku
cemburu!
BARABAH : Tapi dia dan saya tidak ada
apa-apa. Ibah sudah berkata padanya sewaktu dia masuk “Janganlah bertamu ke
rumah orang, ketika suaminya tidak di rumah. Itu adat timur” kata saya.
BANIO : Betul? Betul kau ingat
pesan-pesan saya dulu?
BARABAH : Bagaimana Ibah akan memanggil
dia. Ibah tidak tahu namanya!
BANIO BERDIRI LAGI DENGAN KEKARNYA. DILIHATNYA BARABAH
SEBENTAR UNTUK KEMUDIAN SEAKAN-AKAN MENANGKAP KEJUJURAN DALAM MATA ISTRINYA, IA
TEGAP BERJALAN KE PINTU DEPAN.
BANIO : He jagoan! Masuklah
(Adibul masuk)
Ah, kau tidak pergi rupanya. Biasanya para pengecut itu
pergi lari. Aku tadi Cuma mengujimu
(memerhatikan Adibul yang tegap dengan kagumnya. Adibul
malu)
Kau nampak malu….kenapa? Duduk saja di kursi itu! Semua
kursi-kursi sudah kutaruh di gudang belakang, sejak orang-orang sekita tidak
setuju dengan perbuatanku
ADIBUL : Apa itu pak?
BANIO : Orang-orang itu benci
melihat aku membagi tanah, mematuhi undang-undang landriform pemerintah. Mereka
bilang aku cari muka! Coba kaupikir,
buat apa cari muka, kalau aku mau aku bias menjadi pegawai pemerintah kalau
mau. Tapi bukan itu yang kuinginkan. Lagipula aku sadar, pada akhirnya aku
hanya butuh dua meter persegi saja.
ADIBUL : Tapi bapak awet muda. Dua
puluh tahun lagi, pasti masih kuat!
BANIO : Kuat apa?
ADIBUL : Kuat untuk hidup
BANIO : Hidupku baru saja mulai.
Ini memang hidupku. Aku bangga dengan sisa hidupku ini
ADIBUL : Kalau saya dapat mertua
seperti bapak, saya akan senang
BANIO : Kenapa?
ADIBUL : Orang-orang tua di sini,
kebanyakan sudah meneyerah pada nasib
BANIO : Ya, mereka pergi ke sana
kemari dengan petuah-petuah usang membawa wasiat-wasiat. Sedangkan mereka
sendiri sebenarnya masih bias mencangkul ladang buat cucu-cucunya. He, kau
pintar bicara. Kau ini siapa sebenarnya? Betul kau polisi?
ADIBUL : Saya bukan polisi. Saya
kusir sado
BANIO : Rupanya kau betul-betul
jujur. Saya pernah ketemu kusir sado yang berlagak punya rumah gedong. Saya
benci orang-orang yang tidak jujur. Namamu siapa?
ADIBUL : Nama saya Adibul. Adibul
congek orang-orang mengejek saya. Sebab waktu kecil, kuping saya ini bernanah
BANIO : Jangan bercerita yang
menjijikan! Aku bias muntah
ADIBUL : Tapi ini kenang-kenangan
masa kecil saya pak
BANIO : Apa itu kenangan. Kau
barangkali suka nonton film. Kata-kata itu Cuma diucapkan bintang-bintang film
di bioskop-bioskop. Tapi aku punya kenang—kenangan yang buruk. Siapa tadi
namamu?
ADIBUL : Adibul, pak
BANIO : Aku punya kenangan
buruk, Adibul. Aku telah sebelas kali kawin cerai
ADIBUL : Saya sudah mendengarnya
sebelum ini
BANIO : mereka yang bercerita
padamu itu sebab iri hati saja. Dunia ini sudah sedemikian dipenuhi iri hati,
sehingga kita bosan. Tapi saya tidak bosan hidup. Apa pekerjaanmu? Apa kau
mencangkul saban hari, maka kau yang segini muda jadi bongkok?
ADIBUL : Pekerjaan saya kusir, pak
BANIO : Dari tadi aku mengujimu,
kau tetap jujur. Kusir? Kusir yang begini?
(Memeragakan perilaku kusir lengkap dengan desahannya)
Pantas kau bongkok. Tapi apa kau mencintai pekerjaanmu?
ADIBUL : Cinta sekali
BANIO : Selama kau jadi kusir,
berapa kali kau ditabrak mobil? Aku tidak bertanya berapa kali kau menabrak
orang. Camkan itu!
ADIBUL : Belum pernah!
BANIO : Hebat kau! Hebat! Nah,
dimana kau mandikan kudamu?
ADIBUL : Di kali pak
BANIO : Di kali? Apa di kali itu
banyak orang yang mandi?
ADIBUL : Banyak juga pak. Terlebih
kalau sore hari
BANIO : Siapa yang mandi,
laki-laki atau perempuan?
ADIBUL : Kalau perempuan, mandinya
di pancuran
BANIO : (Ketawa) Hahahahaa.....Lantas,
bagaimana cara kau mandikan kudamu?
(Adibul gugup merasa diuji. Banio memberi isyarat)
Berdirilah, jangan malu-malu. Coba tunjukan padaku cara
kau mandikan kuda
(Adibul ragu-ragu. Dicobanya memeragakan cara memandikan
kuda)
Kalau begitu, di tempat ini
(menunjuk dirinya sendiri)
Perempuan-perempuan itu mandi, bukan? Kau, ya matamu
melihat ke sini. Jadi kau bukan saja memandikan kudamu, tapi juga matamu kau
pakai buat melihat-lihat
ADIBUL : (Senyum) Namanya juga orang
muda, pak
BARABAH : (Menggerutu) Lelaki tak punya sopan
santun
BANIO : (Menoleh ke arah Barabah) Kau
bilang apa, Barabah?
BARABAH : Lelaki tidak bersantun
BANIO : Biar! Dia jujur. Seperti
aku waktu muda juga begitu
BARABAH : Aku tidak suka menerima tamu
tidak sopan!
(Berjalan ke arah pintu belakang, sampai di pintu Barabah
berkata)
Rumah ini bukan warung tempat ngobrol yang bukan-bukan
BANIO : (Senyum) Dia sebenarnya tidak
galak. Barangkali saja sedang ngidam
ADIBUL : Tapi saya diusirnya tadi!
BANIO : Itu tandanya dia istri
yang baik. Kalau kau kawin, carilah perempuan yang sebaik Barabah. Dia bukan
hanya bisa masak di dapur, dia juga pemberani dan suka memberi semangat. Dia
juga tidak mau kehilangan suami. Sebab itu aku senang padanya.
Kau pernah ikut latihan militer? Dulu aku pernah ditawan.
Penjaralah yang membuatku mencintai dunia ini. Aku dulu jago genderang , aku
penabuh genderang yang disegani.
(Memanggil Barabah)
Barabah....Barabah....
(pada Adibul)
Coba kau lihat, muka dia pasti merengut. Laki-laki suka
melihat istrinya merengut dibikin-bikin
(Barabah muncul dengan muka merengut)
Betul tidak kata-kataku?
(Adibul mengangguk. Pada Barabah)
Barabah, ambillah genderang itu di gudang
(Barabah masuk kembali ke dapur)
Kau tidak tahu bagaimana seharusnya menabuh genderang.
Begini, berdiri tegap dan....tramtamtam....tramtamtam...tot tit tet...tot tit
teeeeet, dram tam tam dram tamtam..... apa kau tahu kenapa aku suka bunyi
genderang? Genderang itu bersemangat. Banyak orang tua kehilangan semangat
(Barabah muncul membawa tambur, banio mengambilnya dan
memasang tambur itu dan berdiri. Banio menabuh tambur dan debu-debu pun
beterbangan. Banio terbatuk-batuk)
Tambur ini barangkali umurnya lebih tua dari kamu,
Adibul. Betul namamu, Adibul?
ADIBUL : Boleh saya pinjam?
BANIO : Apa? Pinjam? Kau kan
bisanya cuma (mencontohkan gaya kusir) Ssh, sshh, sssh.....
ADIBUL : Ijinkalah saya pinjam
barang sebentar
BANIO RAGU-RAGU MEMBERIKANNYA. ADIBUL MEMUKUL TAMBUR ITU
DAN BANIO BERDECAK KAGUM DAN TERCENGANG
BANIO : Cobalah sekali lagi, aku
tak percaya kupingku
(mengorek telinganya, Adibul kembali menabuh tambur itu)
Hebat, hebat kau! Kau adalah sainganku rupa-rupanya
(Banio tertawa kencang untuk pertama kalinya. Barabah
berdiri di pintu, Banio melihat ke Barabah)
Dia hebat bukan?
BARABAH : Rumah ini bukan panggung
komedi pak
BANIO : Kenapa kau sekarang jadi
pemarah!? Sialan! Kau pikir rumah ini tempat parlemen bertengkar apa? Di rumah
ini tak boleh ada pertengkaran. Biar orang lain yang bertengkar, kita jangan
ikut-ikutan. Bukan begitu, Adibul?
ADIBUL : Betul
BANIO : Hahahaa.... kau
betul-betul hebat, Adibul. Waktu muda...eh, benar nama engkau Adibul? Aku suka
salah menyebut nama orang sehingga kalau aku marah pada Barabah, ku panggil dia
'Barakah” Hahahaaa... aku tadi cerita apa?
ADIBUL : Waktu muda...
BANIO : O ya, waktu muda aku
suka menyenangkan hati orang tua, seperti yang barusan kau lakukan. Kau seperti
aku waktu muda. Ah, taruhlah dulu tambur ini di atas meja. (Mengambil tambur
dan menaruhnya di meja) Waktu muda aku hebat seperti kau, jagoan seperti kau.
Dan sekarang aku sudah tua, tapi aku tak mau mati lekas-lekas. Aku tidak mau
seperti kakek-kakek yang lain, yang nagntuk-ngantuk di depan kuburannya yang
digali sepuluh tahun sebelum mereka mati
(Keras dan tegas)
Aku masih kuat melawan semua ini. Aku masih kuat bukan?
Tapi kau diam-diam sudah menggantikan kedudukanku!
ADIBUL : Saya hendak mengatakan
sesuatu pada bapak. Ini penting, pak
BANIO : Jangan memotong
pembicaraan orang tua, kami tak perlu kalian ajarkan bagaimana caranya hidup!
Kami sudah cukup pengalaman
ADIBUL : Saya tahu itu
BANIO : Jangan berlagak sok
tahu. Kalau kau jatuh dari langit, bagaimana rasanya jatuh dari tempat
tertinggi di bumi ini?
ADIBUL : Saya pernah jatuh dari
kapal terbang
BANIO :
(kaget) Hah? Kau pernah naik kapal terbang?
ADIBUL : Pernah, waktu saya masih
muda di zaman Jepang
BANIO : Kau naik kapal terbang,
betul kau pernah naik kapal terbang?
ADIBUL : Ya, saya pernah naik
kapal terbang
BARABAH : Dia bohong!
BANIO : Janganlah kau ikut
campur
BARABAH : Laki-laki semua suka bohong!
ADIBUL : Saya betul-betul pernah
naik kapal terbang!
ZAITUN TIBA-TIBA MUNCUL DI PINTU. SEMUA TERKEJUT. BARABAH
BERANJAK DARI PETI
ZAITUN : (Pada Adibul) Kenapa begitu
lama?
ADIBUL MENDEKATI ZAITUN
ADIBUL : Betul kau suka menjinakkan
suami orang?
ZAITUN : (kaget) Tidak
BARABAH : Dia bohong! Dia datang kesini
mau menguji hatiku dengan sindiran-sindiran.
BANIO : Siapa dia?
BARABAH : Ini dia perempuan yang tadi
mencari bapak. Dia mencari-cari suamiku terang-terangan
BARABAHMENANGIS
ZAITUN : Saya datang bukan mencari
suamimu. Saya datang mencari bapak saya
BANIO : Bapak? Siapa bapakmu?
Siapa kau?
ZAITUN : Saya Zaitun
BANIO : Ada beribu-ribu Zaitun
di dunia ini. Kau Zaitun yang mana dan Zaitun siapa?
ZAITUN TERPAKU MEMANDANG BANIO, BANIO MERASA HERAN.
BARABAH MEMERHATIKANNYA, MENDADAK DIA MEMEKIK HISTERIS
BARABAH : Perempuan itu melihat kau
dengan mesra
ZAITUN : (Lirih) Kaulah bapakku rupanya
BANIO : Aku?
ZAITUN : Ya, bapak
BARABAH : Jangan percaya, pak. Itu siasat!
ZAITUN : Iya, dia bapakku!
ADIBUL : Iya, pak. Dia ini anak
bapak
BARABAH TERKEJUT
BANIO : Anak saya? Saya punya
berpuluh-puluh anak perempuan. Dia ini dari istri yang mana?
ZAITUN : Dari istri bapak yang ke
enam, Ibu Rabiah!
BANIO : Rabiah!? He Barabah, kau
ingat istriku yang keenam, Rabiah!?
BARABAH : Yang tukang tenung ramalan
itu!?
BANIO : (Tenang) O, iya...ya... Tapi
kalian ke sini mau apa?
ZAITUN : kami ke sini dengan kereta
api
BARABAH MENDEKATI BANIO
BANIO : (Pada Adibul) Dan ini siapa?
ZAITUN : (Kesal melihat Adibul) Aku
sudah menunggumu satu jam di kantor polisi. Apa sudah kau omongkan soal
perkawinan kita?
SEMUANY MENGANGA, BANIO TENANG
BANIO : Jangan menganga...nanti
masuk nyamuk dalam mulut kalian. Aku sudah menyelidiki dengan teliti, bahwa kau
(menunjuk Zaitun) adalah anakku akan kawin dengan (menunjuk Adibul). Kenapa
dalam perkawinan zaman sekarang mesti membikin pemberitahuan pada orang tua?
ADIBUL : Itulah sebabnya saya
datang
ZAITUN : Ya
BANIO TERSENYUM
BANIO : Rupanya selama ini aku
kelewat curiga dengan anak-anak muda. Masih ada juga anak muda yang
merundingkan soal perkawinan pada orang tuanya. Dan anak muda itu adalah
kalian, anak-anakku. Kenapa kalian semua terdiam? Kenapa? Apa kalian kira aku menyindir?
ADIBUL : kami sebenarnya mau
mengatakan hal ini sejelas-jelasnya
BANIO : He, apa kau pikir aku
ini sudah pikun? Aku bukan orang goblok yang membuat satu perkara bertele-tele
ADIBUL : Ya, kami mau berterima
kasih
BANIO : Perkawinan tidak perlu
diawali dengan yang muluk-muluk dulu. Aku sudah cukup gagal sebagai contoh. Apa
yang kalian tunggu lagi? Aku bukan orang tua yang banyak cincong minta ini
minta itu pada calon mantu, yang kesemuanya akan kalian ungkit kalau bermasalah
denganku
(Zaitun mendekati adibul, lalu berbisik. Banio mendelik)
Apa yang dia bisikkan?
ADIBUL : Kami akan ketinggalan
kereta api terakhir
BANIO : O, cuma itu.
(Setelah semuanya agak lama terhening)
Kenapa semuanya melongo? Apa yang kalian tunggu lagi?
BANIO GELISAH
ZAITUN : Ibu melarang kami
lama-lama sebenarnya, ibu khawatir
BANIO : O, sudah insyaf dia
sekarang soal harga diri perempuan? Siapa laki ibumu sekarang Zaitun? Betul kau
bernama Zaitun?
ZAITUN : Iya. Suami ibu seorang
kepala kuli pelabuhan, pak. Namanya pak Dulsidik
BANIO : (Memalingkan muka, sedih) Zaitun,
jangan bilang pada ibumu kalau aku minta maaf
ZAITUN MENDEKATI BANIO LALU SUNGKEM DI KAKI BANIO. BANIO
MAKIN TERHARU DAN SECARA TIDAK SADAR IA MEMBELAI RAMBUT ZAITUN
RAMBUTMU HITAM BAGUS
(Berubah sikap)
Apalagi yang kalian tunggu. Pergi cepat-cepat. Jangan
bikin aku sedih berairmata. Buatku air mata sangat mahal harganya. Kalau kau
jadi istri, tirulah Barabah! Kau dengar!? Pergilah!
(Tangannya pelan-pelan merogoh sabuk pinggangnya. Dari
dalamnya ia keluarkan uang)
Ini uang lima ringgit buat jajan di kereta. Ini pertama
kalinya aku memberimu uang selama hidupku
ADIBUL DAN ZAITUN AKAN PERGI. SAMPAI DI PINTU, BANIO
MEMANGGIL
ADIBUL : Zaitun!
ZAITUN : (Membalik terkejut) Ya, Ayah
BANIO : (Tercenung agak lama, lalu
mengeraskan suaranya) Sudah! Pergi lekas, jangan buat aku menangis di depan
kalian. Aku bukan orang tua yang cengeng
(Zaitun dan Adibul pergi. Hening sesaat. Banio menarik
napas panjang)
Barabah....
BARABAH : Ada apa pak
BANIO : Hari sudah sore rupanya.
Tolong pijit kepalaku. Aku capek
(Barabah mendekati dan berdiri tegak di depannya. Banio
melihat istrinya dari bawah sampai atas)
Apa kau lihat ada air mata di mataku, Barabah?
AIR MATANYA BERLINANG
BARABAH : Tidak
BANIO : Memang aku tidak pernah
menangis!
(Menarik napas)
Hari sudah sore, Barabah. Simpanlah genderang ini dan
pemukulnya ke dalam gudang
(Barabah akan mengambil genderang di meja, tapi Banio
menangkap tangan Barabah dengan erat)
Tapi nanti dulu! Aku ingin membunyikannya sore ini!
BANIO BERDIRI TEGAP DAN MEMBUNYIKAN GENDERANG ITU DENGAN
BAGUSNYA
SELESAI
Komentar
Posting Komentar